Sabtu, 23 Februari 2013

KEHIDUPAN BERORGANISASI


BAB 1__PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Berorganisasi dalam perspektif psikologi adalah merupakan salah satu kebutuhan psikologis dan sosial yang sangat mendasar. Dalam konsep teori David Mc. Clelland, berorganisasi adalah merupakan perwujudan terhadap pemenuhan kebutuhan untuk berafiliasi (need for affiliation), berprestasi (need for achievement) dan kebutuhan untuk mempunyai kekuatan/kekuasaan (need for power). Sementara dalam konsep teori abraham Maslow (Hierarchi need theori) kebutuhan terhadap organisasi ini dinyatakan sebagai wujut dari dorongan/ drive “love and belonging need”.
             Dari kedua konsep teori tersebut dapat kita pahami bahwa berorganisasi pada dasarnya adalah merupakan kebutuhan mutlak bagi keberlangsungan hidup manusia di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan. Bahkan dalam konsep ilmu sosiologi dinyatakan bahwa manusia belum dapat disebut sebagai manusia bila Ia belum bergaul dengan manusia lain. Pergaulan hidup antar manusia itulah yang menjadi hakekat dari sebuah organisasi. Namun demikian manusia sering tidak menyadari arti penting berorganisasi sebagai sarana menuju kehidupan sosial yang lebih berkualitas dan produktif. Manusia sering terjebak pada kehidupan kelompok (organisasi) yang tidak produktif dan bahkan anti sosial. Akibatnya manusia yang demikian ini sering mempertontonkan (menujukkan) perilaku yang anarkis dan destruktif dengan mengatasnamakan organisasi. Kehidupan berorganisasi yang demikian inilah yang kita sebut sebagai “berorganisasi yang tidak sehat”.

Maka, kita sebagai makhluk sosial harus mengerti dan memahami tentang arti kehidupan berorganisasi sesungguhnya.

B.     MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan makalah ini dibuat yaitu agar kita mengetahui bagaimana suatu organisasi/perusahaan berjalan. Kita juga dapat mengetahui ukuran keberhasilan suatu organisasi dari berbagai pandangan.

C.     BATASAN MASALAH

·         Sebutkan definisi dari organisasi, komunitas, dan program kerja ???
·         Apa definisi masing-masing dari visi dan misi, tujuan, sasaran, target,dan strategi???
·         Apa pengertian dari AD/ART ???
·         Bagaimana cara mengukur berhasil atau tidaknya sebuah  program kerja dalam sebuah organisasi atau perusahaan ???


BAB 2__PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ORGANISASI

Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen.[1] Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).
Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
  • Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
  • James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama
  • Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
  • Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

B.    PENGERTIAN KOMUNITAS

Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen: 1. Berdasarkan Lokasi atau Tempat Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis. 2. Berdasarkan Minat Sekelompok orang yang mendirikan suatu komunitas karena mempunyai ketertarikan dan minat yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras,  maupun berdasarkan kelainan seksual. 3. Berdasarkan Komuni Komuni dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri.

C.     PENGERTIAN PROGRAM KERJA

Program Kerja adalah aktivitas yang menggambarkan di muka bagian mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut petunjuk-petunjuk mengenai cara pelaksanaannya. Aktivitas menggambarkan dimuka ini biasanya menyangkut juga jangka waktu penyelesaiannya, penggunaan material dan peralatan yang diperlukan, pembagian wewenang dan tanggung jawab serta kejelasan lainnya yang dianggap perlu. Program sebenarnya mempunyai ruang lingkup yang lebih besar, bila program ini diterapkan, ia bersifat menyeluruh atau menggarap semua fungsi dari sebuah organisasi, program ini akan menjamah semua elemen, unsur yang harus didayagunakan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi tersebut. Setelah pimpinan orga nisasi menetapkan tujuan dari program dan menetapkan tindakan apa yang harus dilakukan, maka tindakan yang harus diambil dalam program kerja dapat di rinci sebagai berikut :

a. Sarana dan Prasarana


Kondisi dan kemampuan semua sarana maupun prasarana yang ada, tujuannya untuk mengetahui apakah sarana dan prasarana tersebut masih layak operasi atau tidak, bila masih layak operasi, maka apa saja perbaikan dan penyempurnaan yang harus dilakukan, untuk menjalankan program 1 tahun ke depan.

b. Metode


Suatu metode yang digunakan dan proses yang dijalankan, untuk menjalankan program kegiatan satu tahun ke depan.

c. Kemampuan Sumber Daya Manusia


Untuk mengetahui kemampuan sumber daya manusia terhadap metode dan proses kerja oleh pimpinan organisasi untuk memenuhi sampai dimana kemampuan anggota pengurus dalam melaksanakan pekerjaannya, maka di butuhkan suatu penyesuaian dengan bidang masing-masing di lapangan, dari penelitian tersebut maka pimpinan akan mampu mengindentifikasi kemampuan pengurus dalam melaksanakan tugasnya.

d. Semangat Kerja

Seorang pimpinan harus mengetahui kondisi pengurus atau sifat-sifat bawahan mereka, sehingga seorang pimpinan memberi semangat kerja pada pengurus tentang kebijakan dan sistem imbalan yang mencakup intensif dan penilaian prestasi kerja.




D.    PENGERTIAN VISI DAN MISI
Dalam hal pencapaian suatu tujuan diperlukan suatu perencanaan dan tindakan nyata untuk mewujudkannya. Secara umum dikatkan bahwa Visi dan Misi adalah suatu konsep perencanaan yang disertai dengan tindakan sesuai dengan apa yang direncanakan untuk mencapai suatu tujuan.
Visi adalah suatu pandangan jauh tentang organisasi, tujuan-tujuan organisasi, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut pada masa yang akan dating. Visi itu tidak dapat dituliskan, secara lebih jelas menerangkan detail gambaran sistem yang ditujunya, dikarenakan perubahan ilmu serta situasi yang sulit diprediksi selama masa yang panjang tersebut. Beberapa persyaratan yang hendak dipenuhi suatu pernyataan visi :
·         Berorientasi ke depan
·         Tidak dibuat berdasarkan kondisi saat ini
·         Mengekspresikan kreatifitas
·         Berdasar pada prinsip nilai yang mengandung penghargaan bagi masyarakat
Sedangkan misi adalah pernyataan tentang apa yang harus dilakukan oleh suatu organisasi dalam usahanya mewujudkan visi. Misi organisasi adalah tujuan dan alas an mengapa organisasi itu ada. Misi juga akan memberikan arah sekaligus batasan proses pencapaian tujuan.
E.     PENGERTIAN TUJUAN

Perumusan  tujuan  setidak-tidaknya  adalah  suatu  pernyataan  yang  bersifat  kualitatif  berkenaan  dengan  pencapaian  yang  diinginkan  dari  hasil  kebijakan  atau  keputusan,  yang  dapat  menjadi  pedoman  dalam  menentukan  tindakan  yang  sesuai.
Tujuan  mempunyai sifat:
  • Pernyataan  yang  bersifat  umum;  common  sense.
  • Pencapaiannya  tidak  terbatas  (biasanya  jangka  panjang).
  • Tingkat keberhasilannya  sulit  diukur.
  • Diwujudkan  sesuai  kebijakan  atau  rencana  terhadapnya.
F.     PENGERTIAN SASARAN

Sasaran  perencanaan  adalah  pernyataan  tentang  kehendak  yang  sudah  diidentifikasi,  dianalisis,  dan  diekspresikan  secara  spesifik  untuk  menunjukkan  bagaimana hal  itu  dapat  dicapai  dalam  waktu  dan sumberdaya  yang  tersedia  (Branch).

G.    PENGERTIAN TARGET

Target  mempunyai  tingkat  keabstrakan  yang  lebih  rendah  lagi  (dibandingkan  dengan  tujuan  dan  sasaran),  karena  merupakan  pernyataan  yang  sangat  jelas  tentang  sesuatu  yang  ingin  dicapai  dalam  jangka  waktu  tertentu  yang  lebih  pendek.

H.    PENGERTIAN STRATEGI

Kata strategi berasal dari bahasa Yunani "strategia" yang diartikan sebagai "the art of the general" atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Stoner, Freeman dan Gibert Jr yang dikutip Fandy Tjiptono (2000:3) dalam bukunya strategi pemasaran, bahwa pengertian strategi dapat didefinisikan berdasarkan dua perspektif yang berbeda yaitu:
a. Dari perspektif apa yang suatu organisasi ingin lakukan (intend to do)
b. Dari perspektif apa yang organisasi akhirnya lakukan (eventually does).
Berdasarkan perspektif pertama, pengertian strategi adalah sebuah program untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi dan mengimplementasikan misinya. Berdasarkan perspektif kedua, pengertian strategi didefenisikani sebagai pola tanggapan atau respon organisasi terhadap lingkungannya sepanjang waktu.
I.       PENGERTIAN ANGGARAN DASAR/ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pengertian dari anggaran dasar adalah sebuah aturan dasar yang mengatur masalah-masalah vital yang harus ada pada saat awal organisasi tersebut terbentuk, seperti landasan organisasi, perangkat-perangkat, peran dan fungsi organisasi, tujuan organisasi dan keuangan organisasi. Intinya pada Anggaran dasar akan dikupas tuntas segala permasalahan terkait definisi dan hal-hal mendasar yang menjadi acuan dalam sebuah organisasi. Anggaran rumah tangga maksudnya adalah sebuah peraturan yang digunakan pada saat pelaksanaan yang lebih mengarah kepada teknis maupun tatacara pelaksanaan kegiatan dasar pada sebuah organisasi, seperti wewenang ketua, pembubaran, syarat-syarat keanggotaan, atribut, dan lain-lain. Jadi, Anggaran Dasar adalah peraturan-peraturan dasar yang masih umum dalam sebuah organisasi dan pada Anggaran Rumah Tangga dijelaskan lagi secara terperinci.

J.       UKURAN KEBERHASILAN SUATU ORGANISASI/PERUSAHAAN

Mengukur keberhasilan atau potensi keberhasilan seseorang saja ternyata kita sering salah, apalagi mengukur                keberhasilan organisasi yang bersifat                      multidimensi.

Pada awalnya, banyak orang yang berpikiran bahwa mengukur keberhasilan organisasi sederhana saja. Lihat saja apa yang menjadi output organisasi dan periksa apakah organisasi sanggup mencapai sasarannya dalam menghasilkan output                       itu.

Kalau sasaran tercapai berarti organisasi berhasil, kalau sasaran tidak tercapai berarti organisasi tidak berhasil. Belakangan baru disadari bahwa pendekatan semacam ini banyak jebakannya.

Seperti contoh, mungkin saja ada perusahaan dianggap buruk karena sebagian besar keuntungannya ternyata digunakan untuk investasi memperkuat fungsi pemasaran, sementara di perusahaan lain sepenuhnya dianggap keuntungan, sehingga dianggap lebih berhasil karena jumlah atau persentasenya lebih               besar.

Sekian tahun kemudian perusahaan pertama ternyata unggul, sedangkan yang kedua terpuruk.

Kondisi yang lebih repot lagi adalah jika kita hendak membandingkan keberhasilan lebih dari satu organisasi. Apalagi jika yang hendak dibandingkan adalah organisasi-organisasi yang jenis outputnya berbeda. Tetapi, kondisi sulit ini justru memunculkan gagasan baru. Suatu saat disadari bahwa ada organisasi yang output-nya berbeda tetapi input-nya                             sama.

Seperti tukang roti dan tukang cakwe, outputnya jelas berbeda tetapi inputnya sama-sama terigu. Selanjutnya terpikir bahwa perusahaan yang kuat mestinya mempunyai posisi tawar yang lebih baik (dibanding perusahaan yang kembang-kempis) terhadap pemasok bahan                           baku.

Perusahaan yang kuat barangkali diizinkan berutang, diberi harga yang lebih rendah, dsb. Dengan demikian sesungguhnya kemampuan memperoleh input ini bisa dianggap sebagai keberhasilan ataupun kekuatan            organisasi.

Maka muncul gagasan untuk menggunakan pendekatan input, yaitu mengukur keberhasilan organisasi dari kemampuannya mendapatkan input, terutama yang langka ataupun mahal.

Selanjutnya, terpikir lagi masalah baru: Bagaimana membandingkan keberhasilan organisasi yang jenis input maupun output-nya berbeda? Diukur dengan pendekatan sasaran maupun pendekatan input mestinya tidak pas karena input dan output-nya         berbeda.

Akhirnya, terutama dari kalangan psikologi, muncul asumsi bahwa jika karyawan atau anggota organisasi merasa happy dalam menjalankan tugasnya, mestinya mereka akan bekerja dengan giat dan baik, sehingga akan membuat organisasi lebih berhasil. Dengan dasar asumsi itu kemudian muncul pendekatan proses internal: keberhasilan organisasi diukur dari kepuasan kerja dari para anggotanya.

Lama-kelamaan orang mulai tidak puas dengan ketiga cara itu. Masalahnya, masing-masing hanya mengukur satu sisi saja dari keberhasilan organisasi. Pendekatan sasaran hanya memperhatikan keberhasilan organisasi dalam usaha mencapai sasarannya, pen-dekatan input hanya tertarik pada keberhasilan organisasi dari sisi suplai, pendekatan proses internal hanya mempertimbangkan kebahagiaan anggota             organisasi.

Seringkali pendekatan semacam ini ternyata keliru, misalnya dari satu sisi sasaran berhasil dicapai tetapi ribuan karyawan terpaksa dirumahkan ataupun dikurangi gajinya, seperti yang terjadi pada banyak BUMN akhir-akhir                      ini.

Karena berbagai kekurangan tersebut, akhirnya orang mulai membayangkan bahwa akan sangat bagus andaikata ketiga pendekatan tersebut bisa dikombinasikan, sehingga kekurangan pendekatan yang satu bisa ditutup oleh kelebihan pendekatan yang             lain.

Kemudian muncul gagasan untuk mengombinasikan ketiga pendekatan itu dalam bentuk yang dikenal sebagai pendekatan                integratif.

Pendekatan integratif ini tidak secara spesifik mengukur keberhasilan organisasi, tetapi mencoba mendapat gambaran mengenai kondisi dari berbagai aspek yang terdapat dalam sebuah organisasi, sehingga keluarannya adalah gambaran mengenai profil organisasi. Selanjutnya, penafsiran terhadap profil itulah yang akan menggambarkan keberhasilan                         organisasi.

Sebuah penelitian yang mencoba mengukur keberhasilan dari puluhan perusahaan kecil di Texas, Amerika, bisa menjadi contoh dari pendekatan integratif ini. Mula-mula para peneliti mencoba mengidentifikasikan konstituen dari perusahaan kecil ini, yaitu berbagai pihak yang berkepentingan terhadap keberhasilan dari perusahaan kecil                                tersebut.

Ditemukan tujuh jenis konstituen, yaitu pemilik, karyawan, konsumen, bank yang memberikan kredit, komunitas, pemasok, pemerintah.

Bagi para pemilik, perusahaan dianggap bagus apabila sanggup memberikan keuntungan finansial yang besar ke kantong                                mereka.
Untuk karyawan, perusahaan dianggap bagus apabila mampu memberikan kepuasan kerja, imbalan yang memadai, dan pengawasan yang "pas". Konsumen menilai keberhasilan perusahaan dari mutu produk ataupun jasa yang          dihasilkan.
Selain pengukuran melalui kepuasan konstituen sebelumnya, pendekatan integratif juga muncul dalam bentuk yang lain. Salah satu adalah yang mencoba menggambarkan profil organisasi melalui empat bidang (domain), yaitu efisiensi internal, kekuatan relatif organisasi terhadap luar, kepuasan karyawan atau anggota organisasi, dan kepuasan                     konstituen.
Puluhan tahun kemudian, gagasan pendekatan integratif ini digarap dan dikemas kembali , dan akhirnya menjadi populer dengan nama balanced scorecard. Para pengguna instrumen ini mestinya paham bahwa keluaran yang dihasilkan pada dasarnya adalah gambaran, bersifat potret, mengenai profil        perusahaan.


BAB 3__PENUTUP

A.    KESIMPULAN

·        Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat.
·        Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
·        Ukuran keberhasilan suatu organisasi/perusahaan dapat dipandang melalui 7 aspek yaitu pemilik, karyawan, konsumen, bank yang memberikan kredit, komunitas, pemasok, pemerintah.


B.    KRITIK DAN SARAN

Saya meyadari bahwa makalh ini belumlah sempurna. Maka, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun.


KRITIK: ___________________________________________________________________________
               ___________________________________________________________________________
SARAN:
________________________________________________________________

____________________________________________________________



DAFTAR PUSTAKA


http://en.wikipedia.org/wiki/Balanced_scorecard

LAMPIRAN

ANGGARAN DASAR
BANK MANDIRI (PERSERO), Tbk

0 komentar:

Poskan Komentar