Jumat, 21 Maret 2014

Prinsip-prinsip Penyambungan dan Pemutusan Hubungan pada Pusat Sakelar Penghubung Telepon

TUGAS MAKALAH PENGENALAN PADA PRINSIP-PRINSIP PENYAMBNGAN DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN PADA PUSAT SAKELAR PENGHUBUNG TELEPON
MATA KULIAH DASAR TELEKOMUNIKASI

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 8:
          ROYANSYAH PUTERA GINTING                    (120402056)
          LIPI JUNANDA SINAGA                         (120402060)
          M. ROSO SUTRISNO                                (120402062)
2013 / 2014


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nya lah penulisan makalah untuk mata kuliah dasar telekomunikasi ini yang berjudulkan ”Pengenalan Pada Prinsip-Prinsip Penyambungan dan Pemutusan Hubungan Pada Pusat Sakelar Penghubung Telepon” dapat selesai tepat pada waktunya.

Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas di dalam mata kuliah Dasar Telekomunikasi. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang saya peroleh dari berbagai sumber yang berkaitan dengan metode switching dalam sistem telekomunikasi khususnya dari buku pembelajaran dasar telekomunikasi PH Smale.

Dalam penyusunan makalah ini, kami merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi, oleh sebab itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Namun demikian, kami berharap makalah  ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Aaamiinn.



  
   Penyusun 

DAFTAR ISI
Kata pengantar.............................................................................................................. 1
Daftar isi........................................................................................................................ 2
Bab 1   Pendahuluan...................................................................................................... 3
1.1  Latar belakang............................................................................................. 3
1.2  Tujuan.......................................................................................................... 4
1.3  Rumusan masalah........................................................................................ 4
Bab 2   Isi....................................................................................................................... 5
            2.1 Pengertian switching................................................................................... 5
            2.2 Sistem matriks............................................................................................. 7
            2.3 Saklar hubung sistem dua tahap.................................................................10
            2.4 Sistem bertahap (step-by-step switching)...................................................11
            2.5 Saklar penghubung dua langkah.................................................................12
           
Bab 3   Penutup.............................................................................................................14
            3.1 Kesimpulan.................................................................................................14
            3.2 Saran...........................................................................................................14
Daftar pustaka..............................................................................................................15


BAB I
PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang
Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita karena kita selalu terlibat dalam salah satu bentuknya, misalnya: percakapan antar individu, mengirim dan/atau menerima surat, percakapan melalui telepon, melihat televisi, mendengarkan radio, dan sekarang ini masuk ke dalam internet. Tujuan teknik komunikasi ialah penyampaian informasi ke tempat tujuan dengan cepat dan tepat. Terdapat berbagai cara untuk melakukan komunikasi, misalnya dengan suara, gerak-gerik atau lambang lain dalam bentuk gambar. Pada masa kini informasi dapat disampaikan dengan menggunakan sinyal listrik ataupun cahaya. Terdapat banyak alasan mengapa sinyal listrik dipilih untuk menyampaikan informasi yaitu antara lain jarak yang dapat dicapainya dapat dikatakan tidak terbatas dan kecepatannya sangat tinggi (kira-kira 300.000 km per detik), pembangkitan sinyal relatif mudah demikian pula proses pengubahan bentuk besaran lain ke dalam besaran listrik dan sebaliknya dapat dikatakan sangat mudah. Sebagai contoh suara yaitu besaran tekanan udara dapat dengan mudah diubah menjadi besaran listrik dengan pertolongan mikrofon sedangkan loudspeaker dapat dengan sempurna mengembalikan sinyal listrik tersebut ke bentuk asalnya yaitu tekanan udara. Berbagai besaran lain dapat diubah menjadi besaran listrik dengan alat bantu, yang umumnya disebut "transducer", yang tepat.
Salah satu masalah utama dalam komunikasi ialah efisiensi saluran komunikasi. Sangat dikehendaki agar melalui satu saluran komunikasi sejumlah besar informasi disalurkan dengan secepat mungkin dan dengan kesalahan sesedikit mungkin. Di dalam membicarakan telekomunikasi, informasi yang ingin disampaikan bentuk asalnya harus diubah menjadi besaran listrik. Besaran listrik dapat digambarkan dalam bentuk gelombang listrik tertentu (misalnya gelombang sinusoidal, pulsa, dan lain-lain) dan kemudian dibawa ke tempat tujuannya dan dikehendaki agar keadaan yang tepat sama seperti aslinya dapat diterima.

1.2            Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu untuk memberi pengetahuan dan wawasan agar kita dapat memahami dan mengetahui teknik swithing yaitu teknik penyambungan dan pemutusan hubungan pada pusat sakelar penghubung telepon.

1.3             Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, saya akan mencoba membahas tentang macam-macam teknik penyambungan dan pemutusan hubungan pada pusat saklar penghubung telepon,
1. Sistem Matriks?
2. Sistem Dua Tahap?
3. Sistem Bertahap (Step-by-step Switching)?
4. Saklar penghubung dua langkah (Two motion selector) ?

BAB II
ISI

2.1 Pengertian Switching
            Dalam dunia telekomunikasi, jaringan circuit switching adalah jaringan yang mengalokasikan sebuah sirkuit (atau kanal) yang dedicated di antara nodes dan terminal untuk digunakan pengguna untuk berkomunikasi. Sirkuit yang dedicated tidak dapat digunakan oleh penelepon lain sampai sirkuit itu dilepaskan, dan koneksi baru bisa disusun. Bahkan jika tidak ada komunikasi berlangsung pada sebuah sirkuit yang dedicated, kanal tersebut tetap tidak dapat digunakan oleh pengguna lain. Kanal yang dapat dipakai untuk hubungan telepon baru disebut sebagai kanal yang idle.

Untuk call setup dan pengendalian (dan keperluan administratif lainnya) dapat digunakan sebuah kanal pensinyalan yang dedicated dari node terakhir ke jaringan. ISDN adalah salah satu layanan yang menggunakan sebuah kanal pensinyalan terpisah. Plain Old Telephone Service (POTS) tidak memakai pendekatan ini.

Sebuah metode untuk membangun, memonitor perkembangan, dan menutup sebuah koneksi adalah dengan memanfaatkan sebuah kanal terpisah untuk keperluan pengontrolan, misalnya untuk links antar telephone exchanges yang menggunakan CCS7 untuk komunikasi call setup dan informasi kontrol dan menggunakan TDM untuk transportasi data di sirkuit tersebut. Sistem telepon zaman dahulu merupakan contoh penggunaan circuit switching. Pelanggan meminta operator untuk menghubungkan mereka dengan pelanggan lain, yang mungkin berada pada yang sama, atau melalui sebuah inter-exchange link dan operator lain. Dimanapun posisi para pelanggan ini, tetap terbentuk sebuah koneksi antar telepon kedua pelanggan selama hubungan telepon berlangsung. Kawat tembaga yang sedang digunakan untuk koneksi ini tidak dapat digunakan untuk hubungan telepon lain, walaupun para pelanggan ini tidak sedang berbicara dan jalur ini dalam kondisi tidak digunakan (silent).
Akhir-akhir ini sudah dapat dilakukan multiplexing terhadap berbagai koneksi yang terdapat pada sebuah konduktor, namun demikian tetap saja setiap kanal pada link yang mengalami multiplexing selalu berada pada salah satu dari dua kondisi ini : dedicated pada sebuah koneksi telepon, atau dalam keadaan idle. Circuit switching mungkin relatif tidak efisien karena kapasitas jaringan bisa dihabiskan pada koneksi yang sudah dibuat tapi tidak terus digunakan (walaupun hanya sebentar). Di sisi lain, keuntungannya adalah cepatnya membuat koneksi baru, dan koneksi ini bisa digunakan dengan leluasa selama dibutuhkan.

Pendekatan lain adalah packet switching yang membagi data yang akan dikirimkan (misalnya, suara digital atau data komputer) menjadi kepingan-kepingan yang disebut paket, yang lalu dikirimkan melewati sebuah shared network. Jaringan packet switching tidak membutuhkan sebuah sirkuit khusus untuk melakukan koneksi. Dengan pendekatan ini banyak pasangan node dapat melakukan komunikasi yang hampir simultan pada kanal yang sama. Dengan tiadanya koneksi yang dedicated, masing-masing paket yang diberikan dilengkapi dengan alamat tujuan sehingga jaringan dapat mengirimkan paket tersebut ke tujuan yang diinginkan

Hubungan sejumlah pelanggan telepon yang banyak secara langsung tidak efisiean karena dibutuhkan saluran yang besar jumlahnya dan jaringan akan menjadi rumit. System switching dibangun dan diletakan diantara pelanggan-pelanggan tersebut yang dikenal sebagai suatu sentral atau exchange. Untuk N pelanggan hanya diperlukan N saluran untuk menghubungkan pelanggan, penambahan satu pelanggan cukup dengan menghubungkan pelanggan tersebut ke sentral.

Fungsi dasar switching adalah :
a. Penyambungan (interconnection).
b. Pengendalian ( control ).
c. Deteksi adanya permintaan sambungan.
d. Menerima informasi.
e. Mengirim informasi
f. Mengadakan test sibuk.
g. Mengawasi pembicaraan

a. Circuit Switching
· Sebelum dilakukan transfer informasi, terlebih dahulu dilakukan pembentukan
   (set up) koneksi dari ujung ke ujung (end-to-end) oleh proses signaling
· Setelah terbangun hubungan, dilakukan transfer informasi (proses pembicaraan)
· Selama transfer informasi (bicara), kanal bicara (time slot) digenggam/diduduki        secara exclusive, tidak “di-share” dengan nomor time slot tetap tdk berubah.
· Selesai fase transfer informasi dilakukan pembubaran (oleh proses signaling)

b. Packet Switching
· Sebelum dikirim, Informasi disegmentasi (paketisasi) terlebih dahulu.
· Tiap paket dikirim tanpa dibangun koneksi ke tempat tujuan terlebih dahulu,
  sehingga tiap paket sangat mungkin menempuh rute yang berbeda.
· Karena perbedaan rute, kemungkinan paket sampai di tempat tujuan tidak
  berurut.
· Di tempat tujuan paket diurut kembali (reassemble) seperti urutan aslinya,
   baru kemudian disajikan (dipresentasikan).


2.2 Sistem Matriks (Matrix Switching)
Matrix switch adalah salah satu cara penyambungan dan pemutusan hubungan dalam jaringan komunikasi. Prinsip dari matriks ini dapat dijelaskan dengan memperhatikan rangkaian-rangkaian yang saling dihubungkan satu sama lain pada sudut kanan garis-garis horisontal dan vertikal. Garis-garis ini menggambarkan sisi-sisi masuk dan keluar dari suatu sakelar penghubung.

Perpotongan antara garis horizontal dan garis vertikal dinamakan titik perpotongan (cross points). Pada tiap titik potong dibutuhkan kontak-kontak sakelar untuk melengkapi hubungan antara garis-garis horizontal dan vertikal.




Berikut gambar sistem matrik :




Setiap satu dari 15 sisi masuk dari sakelar penghubung dapat disambungkan dengan setiap satu dari 15 sisi keluar sakelar penghubung tersebut, yaitu dengan cara menutup kontak-kontak dari sakelar yang bersangkutan.

Diantara 15 buah sisi masuk dan 15 buah sisi keluar terdapat 225 buah titik-titik perpotongan. Ini berarti bahwa jumlah titik-titik potong pada setiap sistem sakelar penghubung matriks dapat dihitung dengan mengalikan jumlah sisi-sisi masuk dengan jumlah sisi-sisi keluar.

Bila terdapat n sisi masuk dan m sisi keluar, maka jumlah titik-titik potong adalah (n x  m)

Bila n lebih besar daripada m, yaitu bila jumlah sisi-sisi masuk lebih besar dari pada jumlah sisi-sisi keluar. Bila semua sisi keluar telah digunakan, maka akan ada beberapa sisi masuk yang belum digunakan.

Bila m lebih besar daripada n, yaitu bila jumlah sisi-sisi keluar lebih besar dari pada jumlah sisi masuk, dan semua sisi-sisi masuk telah dihubungkan pada sisi keluar, akan ada beberapa sisi keluar yang belum digunakan.
Dengan demikian, maka jumlah maksimum sambungan yang dapat dilakukan secara simultan (bersama-sama pada suatu saat) adalah sesuai dengan jumlah terkecil sisi masuk maupun sisi keluar. Misalkan jika terdapat 20 sisi masuk dan 10 sisi keluar, maka jumlah maksimum hubungan simultan yang dapat dilakukan adalah 10.

Efisiensi semakin kecil jika jumlah kontak – kontak sakelar hubung makin besar.

2.3 Saklar Hubung Sistem Dua Tahap



Dapat dilihat dengan menggunakan saklar hubung 2 tahap efisiensinya lebih tinggi. Kerugiannya:
1.      Bila 9 penghantar digunakan , seperti di atas, maka sisi – sisi masuk 4, 5, 9, 10,14 dan 15 tidak dapat dihubungkan pada sisi keluar, meski sisi keluar 1, 2, 6, 7, 11, dan 12 dalam keadaan bebas.
2.      Bila sisi masuk 1 terhubung dengan sisi keluar 15 sisi masuk 2, 3, 4, 5 tidak bisa terhubung dengan sisi keluar 11, 12, 13, 14 karena satu penghantar A1 ke B3 sudah digunakan disebut internal blocking atau link congestion.


2.4 Sistem Bertahap (Step-by-Step Switching)

            Pada sistem bertahap Step by step, Pulsa-pulsa yang dikirim dari roda pilih pesawat telepon, menggerakkan alat penyambung dan pemilihan dilakukan oleh setiap angka (digit) yang dikirim secara beruntun mulai dari angka pertama sampai angka terakhir. Jadi angka yang terakhir dapat secara pasti memilih pihak yang dipanggil.



2.5 Saklar Penghubung Dua Langkah (Two Motion Selector)

 Kontak – kontak dihubungkan dalam 10 bidang yang berbentuk busur 1/2 lingkaran.

Prinsip kerja:
                  Lengan kontak dapat dihubungkan pada setiap salah satu dari kontak – kontak sisi keluar dengan cara :
Naik ke tingkat (busur lingkaran) yang diinginkan berputar secara horisontal pada busur, menuju kontak sisi keluar yang diinginkan. 
Permintaan Sambungan Telepon 4 Digit Menyediakan tempat bagi 10.000 nomor



BAB III
PENUTUP

3.1Kesimpulan

Fungsi dasar switching adalah penyambungan (interconnection), pengendalian (control), deteksi adanya permintaan sambungan, menerima informasi, mengirim informasi, mengadakan test sibuk, dan mengawasi pembicaraan. Perkembangan perangkat switching dapat dibagi menjadi dua, yaitu sistem manual dan sistem otomat. Terdapat tiga teknik switching dalam telekomunikasi, yaitu circuit switch, paket switch, dan message switch. Sinyal analog adalah sinyal pemanfaatan gelombang elektromagnetik. Merupakan hasil teknologi yang mengubah sinyal tersebut menjadi kombinasi ututan bilangan 0 dan 1 secara terputus-putus (discrete) untuk proses pengiriman informasi yang mudah, cepat dan akurat.

Adapun jenis-jenis dari teknik penyambungan dan pemutusan hubungan pada pusat saklar penghubung telepon,
1. Sistem Matriks (Matrix switching)
2. Saklar penghubung sistem Dua Tahap
3. Sistem Bertahap (Step-by-step Switching)
4. Saklar penghubung dua langkah (Two motion selector)


3.2 Saran
          Sebenarnya masih banyak teknik-teknik lainnya dari prinsip penyambungan dan pemutusan hubungan pada pusat saklar penghubung telepon ini. Namun di makalah ini, kami hanya menjelaskan beberapa teknik yang umum dan banyak digunakan di Indonesia. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami ini. Terima kasih.   
DAFTAR PUSTAKA

Smale, P H. 1996. “Sistem Telekomunikasi I”. Edisi kedua. Jkarta: Erlangga.








0 komentar:

Poskan Komentar